Sunday, April 29, 2007

Perkumpulan...

Walaupun Satu Keluarga
Kami Tak Saling Mengenal
Himpunlah Daun-daun yang Berhamburan lni
Hidupkan Lagi Ajaran Saling Mencintai
Ajari Lagi Kami Berkhidmat Seperti Dulu


Itulah beberapa bait dari sajak doa Iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada kesaksiannya atas zamannya; umat ini seperti daun­-daun yang berhamburan. Seperti daun-daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.


Begitulah kenyataan umat ini; mungkin banyak orang shalih diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang bernama jama’ah. Mungkin banyak orang hebat di antara mereka, tapi kehebatan mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu di antara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka, jama’ah adalah alat yang diberikan Islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, supaya kekuatan setiap orang shalih, orang hebat atau satu potensi bertemu padu dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama shalihnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jama’ah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu. Di dalam satu jama’ah, individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka, meskipun ada banyak jama’ah, itu tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Bagaimanapun, jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul­-simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka, jalan panjang menuju kebangkitan kembali umat ini, harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta di antara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian meledakkannya pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi, itulah masalahnya. Ternyata, itu bukan pekerjaan yang mudah; ternyata, cinta tidak mudah ditumbuhkan di antara mereka; ternyata, orang shalih tidak mudah disatukan; ternyata, orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan gangster mafia: seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna dari pada dua orang jenderal yang hebat. Namun, tidak ada jalan lain. Nabi umat ini tidak akan pernah memaafkan setiap orang di antara kita yang meninggalkan jama’ah, semata-mata karena ia tidak menemukan kecocokan bersama orang lain dalam jama’ahnya. Bagaimanapun, kekeruhan jama’ah, kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a., jauh lebih baik daripada kejernihan individu.


DARI INDIVIDU KE JAMA’AH

Orang-orang shalih di antara kita harus menyadari bahwa tidak banyak yang ia berikan atau sumbangkan untuk Islam kecuali kalau ia bekerja di dalam dan melalui jama’ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain; bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya; bahwa kecerdasan individual tidak pernah dapat mengalahkan kecerdasan kolektif. Bekerja di dalam dan melalui jama’ah tidak hanya terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan kita untuk menjadi lebih efisien, efektif, dan produktif.

Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien, dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keter­batasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.

Jadi, kebutuhan setiap individu Muslim untuk bekerja atau beramal islami di dalam dan melalui jama’ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitasnya, tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita.

Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-­pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada, biasanya tanpa manajemen.

Pilihan untuk bekerja dan beramal islami di dalam dan melalui jama’ah, hanya lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Namun, kesadaran ini saja tidak cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat bekerja lebih efektif, efisien, dan produktif dalam kehidupan berjama’ah.

Pertama, kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. Jama’ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar; jama’ah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya.

Jadi, sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya, dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi di mana ia merupakan salah satu bagiannya. Begitu ada individu yang merasa lebih besar dari strategi jama’ah, strategi itu akan berantakan. Untuk itu, setiap individu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

Kedua, semangat memberi yang mengalahkan semangat me­nerima. Dalam kehidupan berjama’ah terjadi proses memberi dan menerima. Namun, jika pada sebagian besar proses kita selalu pada posisi menerima, secara perlahan kita “mengomsumsi” kebaikan­-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama’ah. Betapa bijak nasihat KH. Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah, “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah.”

Ketiga, kesiapan untuk menjadi tentara yang kreatif. Pusat stabilitas dalam jama’ah adalah kepemimpinan yang kuat. Namun, seorang pemimpin hanya akan menjadi efektif apabila ia mempunyai prajurit-prajurit yang taat dan setia. Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam sebuah jama’ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Akan tetapi, ruang ling­kup amal islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif, dan kreativitas tidak liertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi, kita harus menggabungkan ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan. Hal itu merupakan perpaduan yang indah.

Keempat, berorientasi pada karya, bukan pada posisi. Jebakan terbesar yang dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama’ah adalah posisi struktural. Jama’ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka, kita harus selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita berjama’ah, dan memandang posisi struktural sebagai perkara sampingan saja. Dengan begitu, kita akan selalu bekerja dan berkarya, ada atau tanpa posisi struktural.

Kelima, bekerjasama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat kehidupan yang tidak dapat dimatikan oleh jama’ah. Maka, menjadi hal yang salah jika berharap bisa hidup dalam sebuah jama’ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita tumbuhkan adalah kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerjasama di tengah berbagai perbedaan. Perbedaan tidaklah sama dengan perpecahan, dan karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.



JAMA’AH YANG EFEKTIF

Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jama’ah yang efektif ketimbang mencari jama’ah yang ideal. Kita adalah umat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu sering bertemu dalam sebuah jama’ah, pada dasarnya jama’ah itu juga merupakan jama’ah yang sakit. Itulah faktanya. Namun, tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama’ah yang efektif adalah jama’ah yang dapat mengeksekusi atau merealisasikan rencana-rencananya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagai elemen; ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, dan lingkungan strategi yang kondusif. Jama’ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syari’at Allah Swt. di muka bumi, akan menjadi efektif apabila ia memiliki syarat-syarat berikut ini.

Pertama, ikatan akidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung dalam jama’ah itu disatukan oleh ikatan akidah, diper­saudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari dua kekuatan syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

Kedua, jama’ah itu sarana bukan tujuan. Jama’ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan, sehingga tidak ada ala­san untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekadar untuk menunjukkan kesetiaan pada jama’ah. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama’ah-jama’ah itu saling bekerja sama di antara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

Ketiga, sistem, bukan tokoh. Jama’ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalah sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini, kita mencegah munculnya diktatorisme, di mana selera sang pemimpin menjelma menjadi sistem.

Keempat, penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jama’ah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang­orang yang bergabung ke dalamnya sebagai pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh-kembangkan secara terus-menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama’ah itu. Jama’ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi-sapi dungu yang harus diperah setiap saat.

Kelima, mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama’ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya, dan itu dilakukan melalui mekanisme syura yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus.

-ust anis matta-

p/s: Kita tahu... tapi sering kita 'dilupakan'.... astaghfirullah~

Buat hafiz dan hafizah..

Saudaraku penghapal Al-Quran..
Ini adalah harta simpanan yang Allah percayakan disimpan didalam dadamu, dan ini adalah kedudukan yang Allah pilihkan atasmu untuk menempatinya, dan ini adalah kemuliaan yang engkau raih dimana pada hakikatnya adalah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakmu, amanat yang wajib atasmu menunaikannya.

Maka selayaknya atasmu memuliakan Al-Quran dalam dadamu dan menjaga dirimu dari penghambaan terhadap ahli dunia. Juga wajib engkau melazimi perilaku tawadhu, tenang, serta berwibawa. Hati-hatilah dari kesombongan dan takabbur tatkala engkau mendengar pujian manusia atasmu. Maka ketahuilah bahwasannya riya dapat meluluh-lantakkan amal-amal shalihmu. Bersemangatlah dalam melaksanakan kebaikan serta menjauhi maksiat maupun syubhat.

Berkata Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu: "Adalah selayaknya bagi para penghapal Quran terbedakan saat malamnya ketika manusia terlelap, tatkala siangnya ketika manusia berbuka, tatkala sedihnya ketika manusia bergembira, tatkala menangisnya ketika manusia tertawa, tatkala diamnya ketika manusia banyak bicara, dan dengan kekhusyuannya ketika manusia lalai"

Dari Alhasan Bashri rahimahulloh: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al-Quran sebagai kumpulan surat dari Rabb mereka, oleh karenanya mereka mentadabburinya disaat malam serta mengamalkannya di siang hari."

Dari Fudhoil bin `Iyadh rahimahulloh: "Pembawa (penghapal) Al-Quran adalah pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia bergurau bersama orang-orang yang bergurau, tidak lupa bersama orang-orang yang lupa, serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang banyak cakap, sebagai pemuliaan terhadap haqnya Al-Quran."

Pertama dari apa-apa yang seharusnya bagi penghapal Quran adalah bertakwa kepada Allah dalam semua keadaan, bersikap waro' dalam makan, minum, pakaian, serta perilakunya, tanggap terhadap zaman dan kerusakan penduduk dunia. Maka dia memperingatkan mereka dalam beragama, menjaga lisan, terbedakan didalam bicaranya, sedikit dari berlebihan pada apa-apa yang tak bermanfaat, sangat takut akan lisannya lebih takut dari pada musuhnya, mawas diri dari hawa nafsu yang dapat membuat Allah murka, bergumul dengan Quran untuk mendidik jiwa yang dengannya cita-citanya adalah dapat paham terhadap apa-apa yang Allah kabarkan dari ketaatan dan menjauhi maksiat.

Bukanlah cita-citanya: Kapan aku mengkhatamkan surat ini? Cita-citanya adalah: Kapan aku merasa cukup hanya dengan Allah bukan selainnya? Kapan aku menjadi orang bertakwa? Kapan aku menjadi orang yang berbuat ihsan? Kapan aku menjadi orang yang bertawakkal? Kapan aku khusyu beribadah?, Kapan aku bertaubat dari dosa-sosa? Kapan aku bersyukur atas segala nikmat ini? Kapan aku paham dari apa yang aku baca?, kapan aku malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya? Kapan aku menyibukkan mataku dengan Quran? Kapan aku perbaiki kejelekan-kejelekan urusanku? Kapan aku mengoreksi diri? Kapan aku membekali diri untuk kehidupan setelah mati di akhirat kelak?

Seorang mukmin yang berakal tatkala membaca Al-Quran maka Al-Quran itu bagaikan cermin di matanya sehingga dia bisa melihat apa yang bagus atau jelek dari perilakunya, maka apa-apa yang Allah peringatkan, dia merasa diperingatkan dan apa-apa yang Allah ancamkan dari siksa, dia merasa takut. Maka orang yang memiliki sifat seperti ini atau paling tidak dekat dengan sifat tersebut, maka Al-Quran akan menjadi saksi serta memberinya syafaat.

From : PIP PKS-ANZ

Wednesday, April 18, 2007

...don't you fear Allah?

Don't you fear Allah..?
Won't you fear Allah..?

When you are Alone,
inside your home
Know that this is true,
Allah for sure sees you,

and if you speak a word,
for sure Allah has heard,
no matter what you do,
Allah knows about you.

We are going to die,
your body it will lye
down into the earth,
covered up with dirt

for some it will be dark,
their bodies will be marked,
The earth will close on them
until their ribs are rimmed.

On the Day of Judgement,
the people will be raised
some will have no clothes,
some will be dark faced
from dragging on the ground
and they will be disgraced.
What will they do
when this day comes true.

Crossing the sirat,
some people will be clawed,
it will pull them to the edge,
and leave them at the ledge

Below them is Hell,
so scared they almost fell
some will go right in,
the pain of burning skin.

The torture is so great,
the people want to drink,
they look for the relief,
that is what they think.

They'll get molten hot pus,
they drink it in disgust,
as it travels down their mouth,
it rips them inside out.


...Don`t you fear Allah......

Monday, April 9, 2007

Pemuda ini membuat saya terharu

suatu ketika ketika zaman pemerintahan khalifah Umar al Faruk, terjadi satu kes pengadilan di mana dua orang anak meminta hukum qisas terhadap pemuda yang telah membunuh ayahnda mereka. Kedua mereka berkata, " Wahai khalifah Allah, pemuda ini telah membunuh ayahnda kami ketika beliau sedang di kebunnya. Maka hukumlah pemuda ini sesuai dengan hukum kitab Allah." Khalifah Umar memandang si pemuda yang tertuduh lalu menanyakan beliau apakah yang telah terjadi. Jawab si pemuda;

"Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, kecuali Allah, Yang selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang benar." Si tertuduh meneruskan, "Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah pagi tadi untuk berziarah ke makam Rasullulah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Setelah aku melihatnya, aku menarik kudaku itu menjauhi ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang pak tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kudaku, dan kudaku itu langsung mati. Kerana aku sangat menyayangi kuda itu, aku tidak lagi dapat mengawal diri. Aku ambil kembali batu tersebut dan melemparkannya kepada pak tua itu, terus beliau rebah dan meninggal dunia. Jika aku ingin melarikan diri, boleh saja aku melakukannya, tetapi kemana? Jika aku tidak mendapat hukuman di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh pak tua itu, namun kenyataannya, beliau mati di tanganku. Sekarang tuan khalifahlah yang berhak mengadili aku."

Khalifah Umar lalu berkata, "Engkau telah membunuh. Maka, engkau berhak untuk dihukum dengan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu." Walaupun ucapan dari khalifah tersebut adalah seperti pengumuman hukumun kematian ke atasnya, pemuda tersebut dengan tenang membalas, "Kalau demikianlah halnya wahai amirul mukminin, laksanakanlah hukuman tersebut. Namun, aku masih punya satu tanggungjawab yang perlu aku selesaikan. Aku diamanahkan untuk menjaga harta seorang anak yatim untuk diserahkan kepadanya apabila ia besar nanti. Harta itu aku tanam di satu tempat yang aman dan hanya aku seorang sahaja yang aku tahu di mana letaknya. Berilah aku kebenaran untuk aku pulang ke tempatku selama tiga hari dan menyelesaikan segala urusan sebelum aku dihukum mati. Kalau tidak, anak tersebut akan kehilangan haknya ketika ia besar kelak." namun khalifah Umar menjawab, "Permintaanmu tidak dapat aku penuhi kecuali ada orang lain yang bersedia menggatikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu." Pemuda tersebut membalas, "Wahai Amirul Mukminin, aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mahu. Hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali."

Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para sahabat Rasullulah saw yang mulia, yang berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak, si pemuda menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, "Orang ini akan menjadi jaminan bagiku." Abu Dzar adalah salah satu saeorang sahabat Rasulullah saw yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu. Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua pendakwa itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi pemuda yang tertuduh tidak ada. Kedua pendakwa itu berkata: "Wahai Abu Dzar, anda telah bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidak akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami." Khalifah Umar lalu berkata, "Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar." Mendengarkan kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, kerana Abu Dzar merupakan orang yang berakhlak sempurna, sangat terpuji tingkah lakunya, dan merupakan cahaya dan inpirasi bagi seluruh penduduk Madinah.

Ketika hari ketiga tersebut mulai berakhir, kegemparan dan kesedihan orang ramai yang hadir mencapai kemuncaknya. Namun, di celah-celah saat yang genting itu, tiba-tiba pemuda yang tertuduh muncul. Beliau datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat, beliau berkata, "Aku mohon kemaafan pada kalian kerana telah membuat anda khuwatir. Maafkan aku kerana baru sampai di sini pada minit-minit yang terakhir atas terlalu banyak perkara yang harus aku kerjakan. Padang pasir ini sangatlah panas dan perjalanan ini teramatlah panjang. Sekarang aku telah siap, maka laksanakanlah hukuman terhadapku."

Kemudian beliau berpaling kepada orang ramai lalu berkata, "Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang yang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang lain berkata, "Orang-orang Islam tidak lagi menepati ucapannya sendiri?"
Orang ramai kemudian berpaling kepada Abu Dzr dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar lalu menjawab, "Tidak sama sekali. Tetapi, saya merasa tidak mampu untuk menolak permintaannya ketika beliau memilih saya. Ini kerana hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?"

Saat itu, hati dan perasaan kedua pendakwa tersentuh dan bergegar. Mereka lalu menarik tuduhannya seraya berkata, "Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?"

Subhanallah ya.... Betapa iman pada Rabb mengatasi segalanya~. Begitulah... segalanya manis, kalau benar-benar kerana Allah. Pemuda itu benar-benar telah membuka hati saya. Alhamdulillahi `alakulli hal.....

Copland Th

Semalam, AAIC was officially closed. Terasa sebak apabila mengenangkan betapa banyak yang telah dilalui selama 2 hari lalu. 100000000....000 thanks to Mercy Mission for their determination, passion, 'devotion' and continous efforts on this successful event.

".. wallahi, if you know what my team have done, if you really know who they are, you will cry. I've been searching all over the globe for people like them, to be with my side building this ummah.."-his tears dropped.
-Br Tawfeeq Chowdury

Before closing the conference, Br Tawfeeq gave us a 'surprise'. He annouced that there were two sisters chosed to embrace Islam. I witnessed their shahadah. Subhanallah..... When I looked at them, other sisters gave them huggggs, and I noticed that they were like crying.... and so did I~. That was.... so.... unexplainable feeling. So...... hm... sweet..




"..a mother of nwly reverted brother came to me and expressed her worries about their son. Then I told her that you have nothing to worry about. Indeed, you are lucky. You don't have to worry about his alcohol problem, drugs, sneaking girls to your house, where he'll be during the night and etc... He will be a good son. If other mothers know this, they will be envy with you"
-Sis Yvonne Ridley

ya.. begitulah situasi di sini. Ramai yang memilih untuk revert to Islam, selepas memahami Islam and witness its beauty. Kadang-kadang, saya merasakan .... AUS will be the first islamic country fo the world. An islamic country, not just a Muslim country. Kerana di sini, haq dan bathil itu itu jelas tampak berbeza....

Copland Th.... menjadi saksi Syahadah dan takbir. Allahu akbar! alhmadulillahi 'ala kulli hal...